Sabtu, 10 November 2012

Mencari Pendamping "Ideal" Part.2


Mikum Girls, gimana nih kabarnya? Alhamdulillah satu lagi artikel terbaruku sudah selesai kubuat. Judulnya sih masih tetap sama “Mencari Pendamping Ideal”, cuman yang membedakan adalah Topik Pe
mbahasannya, kalo di artikel sebelumnya aku memaparkan tentang Contoh Kriteria Istri ideal. Nah kalo untuk artikel kali ini aku akan mencoba untuk memaparkan tentang Contoh Kriter ia Suami Ideal. Tapi tentunya menurut sudut pandangku sendiri loh. jadi, jangan protes ya. Kalo ada yang gak setuju. Maklum ajalah, namanya juga penulis amatiran. suka-suka gue aja, tangan-tangan gue, yang nulis gue, masalah buat loh??!. Hahaha *soimah mode on

“Suami Ideal, Kayak apa sih?”. kalo aku coba nanya tentang kriteria suami ideal ke sebagian perempuan, pasti jawabannya bermacem-macem, mungkin ada yang bilang “ Suami yang ideal tu, Yaa suami Mateng (Mapan dan Ganteng)”. Terus mungkin juga ada yang jawab “ Suami Ideal tu, yaa suami yang baik, bijaksana, pengertian, romantis, dan sholeh”( ekhmm.. kalo jawaban yang inimah karakter sipenulis banget. *narsis dikit^^). Tapi apapun jawabannya, aku akan tetap berikan aplous. Coz gak ada yang salah kok dengan jawabannya, karena seperfect apapun kriteria cowok yang kamu harapkan, menurutku itu sah-sah saja. Oke girls, Sebelum aku memaparkan contoh kriteria suami ideal, aku akan coba untuk mendefinisikan kata dari Ideal itu sendiri. Ideal, mungkin sebagian orang ada yang beranggapan Sifat dari kata ideal sama seperti Kesempurnaan. Padahal, sebenernya definisi sifat dari kata Ideal itu adalah suatu bentuk sifat yang memiliki kesamaan antara kamu dengan si doi. Artinya, ketika kamu mencari Suami Ideal atau Istri ideal, bukan berarti kamu mencari Suami atau Istri Sempurna, Tapi suami atau istri yang sesuai dengan karakter diri kamu sendiri. Nah loh paham gak tu penjelasannya. Pokoknya sperti yang aku bilang dari awal, jangan protes. setuju gak setuju, kudu setuju. hhee… *maksa.

Suami Ideal, atau yang lebih tepatnya lagi calon suami Ideal. “lho kok calon suami?”. Iya donk, khan belum nikah, masih calon, belum jadi hak milik. enak aja ngaku-ngaku. Entar dimarahin emaknya loh. *hhee. Siapa sih yang gak kepengen punya suami kayak gitu, pasti setiap wanita mendambakkan sosok lelaki macem gitu, iya gak girls?. apalagi jaman sekarang, kata emak ku “jaman ayeunamah neangan pemuda anu bener jeung hademah hese”. Nah tuh, tau gak artinya girls?, Kalo gak tau aku translet nih; “jaman sekarang tuh nyari pemuda yang bener dan baik tu susah”, kira-kira begitulah artinya girls. Lagian jaman sekarang tuh susah – susah gampang nyari lelaki yang bener dan baik hati. “oya?cyus?myapa?”. Iya beneran loh, Susahnya tuh pas kamu gak kenal sama si penulis dan gampangnya tuh pas kamu mengenal sama si penulis. “maksud loh?!”. Upss, gak ada maksud apa2 kok girls. bener deh, cuman lagi coba jelasin doank. Wackk!. *juspuding^^”.

oke deh, biar tulisannya gak menuhin wall kalian, kita langsung aja ke topik pembahasannya. Selain dua contoh yang telah aku jelasin di tulisan sebelumnya ( baca ; Mencari Pendamping “ideal” Part 1), sekarang di pembahasan kali ini ada tiga tambahan tentang Kriteria calon suami ideal, yaitu “BBB”. eitts maksudnya bukan nama group vokalnya bentukan teh melly goeslaw ya, tapi ini tuh singkatan dari kata “Berkualitas, Berkarakter, dan Bertanggung Jawab”. Nah, dari kata itulah nanti aku akan coba untuk memaparkn satu persatu uraiannya.

Pertama adalah Berkualitas. Maksud dari berkualitas di sini bukan di nilai dari tampangnya yang kece’ or status sosisalnya yang tinggi doank girls. tapi maksudnya adalah Akhlaknya. Ingetin nih jangan dilupain. Akhlak atau Perilaku harus kamu perhatikan dengan extra Teliti. Karena nanti si doi bukan Cuma jadi Suami kamu aja, tapi sekaligus imam alias pemimpin dalam rumah tangga kamu. Emang sih terkadang kita tuh perlu juga melihat seseorang dari status sosial or pendidikannya, tapi bukan berarti jadi ukuran Berkualitasnya pribadi seseorang ya . walaupun di belakang namanya ada embel2 gelar kayak, SP, DR, IR, SP.d, Alm ( maksudnya Almarhum. *Hhee). Itu semua bukanlah jaminan girls. Karena banyak sekali orang yang punya status sosial tinggi dan berpendidikan tinggi tapi kelakuannya bejad, sukanya main perempuan, judi, beyey alias mabok-mabokan dst. Nah kalo kelakuannya udah kayak gitu, gimana mau dibilang Berkualitas coba. Jadi emang yang jadi ukuran Berkualitas or enggaknya seseorang tuh di nilai dari akhlaknya. Kalo akhlaknya baik, dia berarti masuk dalam kategori Pribadi yang Berkualitas, tapi kalo akhlaknya buruk, berarti dia bukanlah tipe Pribadi yang Berkualitas. Setuju khan girls?. Rosululloh saw pernah menyampaikan dalam hadisnya “Sebaik-baik manusia ialah orang yang memberi manfaat pada orang lain. Dan Sebaik-baik manusia ialah mereka yang paling baik akhlaknya (berkasih sayang kepada orang lain).” (Riwayat At Tabrani). Nah tuh. Jadi sebelum kamu ngerengek minta di nikahi, kamu juga harus teliti melihat akhlak atau perilaku dari calon suamimu. Seperti yang telah aku katakan sebelumnya, suami adalah seorang pemimpin sekaligus perangai dalam keluarga, nah kalo sipemimpin akhlaknya bejad gak ketulungan, gimana dia mau jadi suri tauladan buat anak2 kamu nanti, terus generasi macam apa yang akan kalian bentuk nanti. Jadi jangan lupa perhatikan dengan teliti akhlaknya. Nah kalo kamu udah yakin si doi Akhlaknya baik, langsung aja tuh kamu ngomong ke si doi “kang, Kita ke KUA yuk?” . *wkwkwk :)

Yang Kedua, Berkarakter. Seperti yang telah aku sampaikan juga di artikel sebelumya, melihat karakter atau sifat dari diri seseorang adalah poin yang sangat penting sebelum kamu akhirnya memutuskan untuk menjadi pendampingnya. Liat dengan cermat, si doi punya karakter antagonis atau protagonis, kalo antagonis mendingan jangan di pilih deh, mendingan buru-buru katakan “No!”, atau ungkapin pake gayanya Kang pasha ungu; “sayang… maafkan, aku ingin putus” *gunjreng. Coba bayangin deh, kalo nanti kalian udah berumah tangga pasti yang ada keluarga kamu di juluki keluarga Rocker. Yang ada teriak-teriak mulu. Dikit-dikit bentak. Dikit-dikit marah. Kadang-kadang panci juga ikut berbicara “ggombreng!”. Huhh pasti batin banget punya suami kayak gitu. Jadi lebih baik akhiri saja jangan dipilih. Daripada kamu menyesal diakhir. Karena hidup kita cuman sekali. Kalo sekali saja kita salah dalam menyikapinya, maka penyesalan beruntun akan datang menghampiri kehidupan kita. Jadi harus serba hati-hati girls. Dan harus kalian ingat girls, rata-rata cowok yang gak punya karakter dia cenderung Plin-Plan, gak punya prinsip, atau gak konsisten. Sifatnya cenderung berubah-ubah. Nah kalo orang kayak gini mau kamu jadikan suami, apa jadinya nanti. mungkin aja nanti si doi minta cerai ketika dia sudah merasa gak ada kecocokan sama kamu atau bosan, Tentunya tanpa ada alasan yang jelas dan secara sepihak. atau mungkin juga rumah tangga yang kamu bina dengan si doi berantakan karena dari awal kamu gak teliti dalam melihat pribadi dari calonmu itu. Jadi, pilihlah suami yang Berkarakter. Sukur-sukur karakternya kayak si penulis. Protagonis; Murah senyum dan baik hati. *Gubrakk!^^"

yang terakhir, Bertanggung Jawab. Kalo ini sih jauh lebih penting lagi girls. Seperti yang telah aku katakan di poin pertama, suami itu bukan cuman sebagai pasangan hidup doang tapi juga sekaligus pemimpin. Artinya, suami mempunyai peranan penting dalam suatu tatanan keluarga. Selain sebagai pencari nafkah dia juga sebagai teladan yang akan jadi panutan bagi keluarganya, baik itu kamu sebagai istrinya atau anak-anak kamu nanti. Nah dari sinilah seorang suami dituntut untuk bertanggung jawab secara total. Tanggung jawabnya adalah, seorang suami harus berperan sebagai “Pekerja Keras”, tentunya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. seorang suami harus berperan sebagai “Guru yang bijak”, artinya dari setiap ucapan ataupun perilaku dia mampu memberikan tauladan yang baik untuk anak-anaknya sebagai generasi penerus sekaligus penjaga kehormatan bagi keluarganya. dan yang terakhir seorang suami harus berperan sebagai “Sang Motivator ulung”, artinya suami adalah otak atau penggagas dalam berbagai kebijakan yang akan diputuskan, tentunya untuk masa depan sekaligus perkembangan keluarganya. Nah peran seperti itulah bentuk dari sikap tanggung jawabnya seorang suami, baik pada dirinya maupun pada keluarganya. Jadi jangan asal aja yua girls. Dalam sebuah hadis, Rosululloh Saw berkata “Contoh pemimpin yang baik ialah mereka yang dapat melaksanakan tanggung jawab terhadap keluarga (rumah tangga) dan negara dengan baik dan sempurna” (HR. Bukhari). jadi, sebelum kamu melangkah lebih jauh lagi dengan si doi, kamu harus lihat dulu pribadinya, apakah sikapnya selama ini terlihat seperti orang yang bertanggung jawab or enggak. Bila perlu kamu coba deh kasih pertanyaan ke si doi seputar “Tanggung Jawab Seorang suami”, apakah dia bisa menjawabnya dg lugas atau justru dia gugup, “bla ble blo”. oke girls?.

Oiya girls, ini sih cuman sekedar sebagai peringatan doank. Jangan mau kena tipu daya plus rayuan gombalnya lelaki ya. Biasanya, ketika masih dalam penjajakan atau kalo bahasa kerennya tuh Pacaran, beuhh manis banget kata-katanya. Semanis madu!. Akhlaknya di baik-baikin. Apel selalu tepat waktu, Kalo lagi ngomong berwibawa banget, (maksudnya sih biar keliatan berkarakter dan bertanggung jawab geto!). Pokoknya selalu menampilkan yang terbaik deh dan terlihat ingin sempurna (heum kayak siapa yah). Tapi kalo udah nikah, sebulan sih masih oke, gak ada yang berbeda dari sikap sebelumnya, tapi kalo udah lima bulan, setahun, dua tahun, biasanya ketauan tuh belangnya. Nah kalo nanti suami kamu kayak gitu, langsung aja deh kamu do’ain “ Ya Alloh, ternyata suamiku omdo nih, mudah-mudahan batas akhir hidupnya di percepat”. eh salah, Maksudnya kesadarannya yang dipercepat. Hhee. Lagian seburuk apapun pasangan kita tetap aja gak boleh doain yang gak bener girls, pamali. lebih baik doain aja yang kemungkinannya lebih besar bagi keutuhan rumah tangga kamu. mungkin aja dia begitu karena sikap kamu juga udah gak kayak dulu lagi. mendingan di diskusikan aja biar ketauan akar permasalahannya tu dimana. Jangan egois. Harus saling mengevaluasi satu sama lain. karena itu adalah kunci kebahagiaan dalam rumah tangga. Setuju khan girls?.

Oke deh girls, aku rasa cukup sampai di sini saja pembahasan tentang Kriteria calon suami ideal. Sekali lagi aku tekankan, jangan asal aja memilih suami. Asal Ganteng, asal kaya,Asal Pangkatnya tinggi. tapi kualitas Akhlak, Keimanan, dan Agamanya Asal-asalan. Gaswat tuh!. Semuanya harus kamu uji secara teliti dan juga hati-hati. Pesanku, Lebih baik sabar dalam mencari dari pada terburu-buru eh ternyata lelaki yang kamu dapatkan jauh dari harapan, lalu pada akhirnya kamu jadi rugi sendiri. Waktu yang telah kamu habiskan bersamanya,cinta yang kamu berikan padanya, semuanya jadi sia-sia karena ketidak hati-hatian kamu sendiri. Nah kalo udah kayak gitu, Apa kata dunia?!!. Smoga Artikelnya bermanfaat ya :)

Senin, 15 Oktober 2012

Mencari Pendamping "Ideal" Part.1


Mikum temen2 semua, seperti biasa nih ada sedikit catatan dari sipenulis amatir. yaa bisa dibilang artikel gitu. pembahasannya sih tetap sama, apalagi kalo bukan mengenai C.I.N.T.A. begitu kata d’bagindas. bedanya kalo yg kemarin narasinya tentang ‘sepasang kekasih’ nah kalo yg ini tentang ‘mencari seorang kekasih’. Artikel ini juga pernah di muat di groupnya PDG’06, itulo groupnya Alumni SMAN 3 Pandeglang angkatan 2006 yg para penghuninya banyakan yang masih jomblo or belum pada merit kayak aku (promosi.com^^”). oiya kalo artikel yg ini hasil editan dari tulisan sebelumnya, mohon dimaklum ya, krn kali ini aku share ditempat umum. Jadi isinya aku rubah menyesuaikan target. gak apa2 khan, yg pentingkan tujuannya sama. Iya gak?.Hhee…

Kriteria! Yupzz kriteria adlah bagian terpenting dalam mencari pendamping, karena dengan melihat terlebih dulu kriteria seseorang kita bakalan tau seperti apa sih pribadi dari orang yang akan menjadi pendamping kita nanti, dan tentunya kita juga bisa menggambarkan keluarga macam apa yang akan kita bentuk nanti ketika kita sudah menjadi suaminya. karena yang kita cari tu bukan cuma seorang istri, tapi juga ibu dari anak - anak kita nanti. jadi emang kudu hati2 dan teliti. Nah bagi temen2 yg masih bingung, kira2 kriteria seperti apa sih wanita ideal yg pantas untuk kalian nikahi? nih aku punya sedikit contoh tentang Kriteria seorang istri ideal ( walau agak berat jg sich!) tapi lumayankan, kali aja nanti bisa jadi bahan referensi buat kalian. biar nantinya kalian juga nggak asal nikah aja geto!.

Oke kita langsung aja nih ke kriteria calon istri ideal yang Pertama. Carilah wanita yang Shalihah, eittss bukan namanya yg shalihah ya, tapi sifat & perilakunya. Seperti yg pernah disampaikan oleh Rosululloh saw “Dunia ini sesungguhnya merupakan kesenangan, dan kesenangan dunia yang paling baik adalah seorang wanita yang shalihah” (HR Ibnu Majah). bahkan di riwayat lain, ada seorang Sahabat bertanya pada Rosululloh, "wahai Rosululloh wanita manakah yang paling baik?" Beliau menjawab: "wanita yang membahagiakan (menyenangkan) suaminya jika memandangnya, mentaati suaminya jika suami memerintahnya, dan tidak menyalahi (mengkhianati) suaminya dalam hal yang tidak disukai suaminya berkenaan dengan dirinya dan harta suaminya”. nah, Jadi jangan sekali2 nyari yang bakalan bikin repot buat kalian. Pokonya, jangan ambil resiko dengan memilih gajah alias gadis jahiliyah; selalu mempertontonkan auratnya, bergaul bebas dg lelaki tanpa memperhatikan Hijab or batasan yg telah d Syari’atkan, pokoknya kalo liat sikap dan prilakunya, kalo kata anak Gaul d kampungku tuh T.G.B! ( Teu Geura Bae ) alias enggak banget deh!. lagian masa kalian tega2nya milihin buat anak2 kalian nanti ibunya yang amburadul begitu. tapi tentunya, biar peluang kalian besar buat dapetin gadis yang shalehah, kalian juga harus jaim alias jaga imej. Kalian juga harus taat dan sholeh juga. Malu atuh, seorang muslim tapi kelakuannya nyontek abis kaum lain. mana ada perempuan baik2 mau sama kita kalo perilaku kita sendiri bejadnya gak ketulungan. pan wanita2 yang baik hanya untuk lelaki2 yang baik, dan begitupun sebaliknya. So, dua2nya emang kudu seimbang.

Nah kalo yg Kedua, kalo kalian pengen nyari calon istri, sebelum minta ke ortunya alias ngelamar, pastikan dulu kalo calon kalian tu oke punya. Yang paling utama adlah dalam soal Agamanya, kamsudnya Islam bukan agama yg lain, kl yg lainmah buang aje kelaut!(*piss ah). dari Abu Hurairah, Rosululloh saw pernah bersabda: “Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunan­nya, karena kecantikannya dan karena Agama­nya. tetapi hendaklah kamu memilih wanita yang beragama. (HR. Jama’ah kecuali Tirmizi). Ingetin nih pesan dr Nabi baik2, biar nanti jadi yang terbaik buat hidup kita. emang sih terkadang kita tu pengen banget dapetin pasangan yang kualitasnya lebih, mungkin barangkali yang lelaki mengkhayal, “kali aja aku dapet istri yang wajahnya kembaran sama Oki Setiana dewi or Asmiranda, (itutu pemainnya Ketika Cinta Bertasbih). aduh, gimana senengnya kali ya!”. begitu juga yang perempuannya, berharap banget dapet gandengan lelaki yang mirip sama Lee Min Ho or Arie Maulana El Shirazy, eh salah! maksudnya Justin Bieber^^”.*gubrakk

Tapi, tentunya bakalan percuma aja kalo punya gandengan yang tampilannya oke tapi sukanya bikin berabe, karena si doi nggak taat sama Alloh. Ini berlaku buat kedua belah pihak. yang lelaki kudu taat, begitu juga yang perempuannya. Jangan sampe yang perempuannya nyablaknya minta ampun. gaswat kan!. kalo kata tetangga sebelah perempuan model gitu katanya tipe moni­tor; genit, senangnya diperha­tiin, suka pamer, padahal belum tentu yang dipamerin tu bagus. hadeuhh!!

Oke temen2, paling nggak itulah sedikit contoh tentang kriteria wanita yang pantas buat kita nikahi. Jadi jangan asal aja. begitu juga dengan yang perempuannya, jangan cuma seneng meli­hat lelaki atau calonnya dari tampilan fisiknya doang padahal pikirannya amburadul. Inti­nya, carilah pendamping yang beriman, pinter dan taat kepada Alloh Swt. seorang penya'ir bilang “Aku melihat seperti apa kurasakan di dalam hatiku. Jika ada dua pelamar, maka aku memeriksa rumah2 yang dilihatnya bisa menjadi tumpuan agamanya”. Nah, kalo kamu udah nemuin wanita yg punya kriteria seperti yg udah aku jelasin di atas, nggak usah ragu lagi kang, langsung aja kamu bilang ke doi “duhai kekasih hatiku, kupinang engkau dengan bismillah” (lho, kok malah kayak lagu!) Hhehe. Smoga bermanfaat yaa :D

Sabtu, 29 September 2012

Cinta Itu, Apa Adanya!

Ada Sepasang kekasih yg tlh menjalin hubungan cukup lama, bahkan bs dibilang sangat lama. krn sdh hampir 1 tahun mrk menjalin hubungan. di dlm kisah perjalanan ini mrk sangat bahagia, hampir tdk ada masalah yg datang mengoyak hubungan mrk.


suatu hari si lelaki ini di kejutkan dg sms dr wanita kekasihnya itu, isi smsnya, si wanita itu ingin masing2 mencatatkan ketidaksukaan yg ada pd diri pasangannya masing2  untuk mjd pembahasan mrk di pertemuan berikutnya.

Singkat cerita.
akhirnya hari itupun tiba, lalu mrk berangkat dr rumah masing2 dg membawa selembar kertas menuju tempat yg telah mrk sepakati. seperti pertemuan2 biasanya, si lelaki ini duduk agak menjauh dr wanita kekasihnya itu. akhirnya diskusipun dimulai;
"aku akan mulai duluan yaa…?" kata si wanita kekasihnya itu. Ia lalu mengeluarkan daftarnya, banyak sekali yg ditulisnya. ketika ia mulai membacakan satu persatu hal2 yg tdk dia sukai dr lelaki ini, ia memperhatikan paras wajah dr Lelaki ini mulai terlihat murung.
"maaf, apakah aku hrs berhenti ?" tanya wanita itu.
"oh tdk usah, silahkan lanjutkan" jawab lelaki ini dg tenang.
lalu wanita itupun melanjutkan membacakan semua yg terdaftar. setelah selesai membacakannya, dia kembali melipat kertasnya dg manis diatas meja & berkata dg bahagia, "Sekarang gantian ya, kamu yg membacakan daftarmu".
tapi dg suara perlahan lelaki inipun berkata, "aku tdk mencatat sesuatupun di kertasku. aku berpikir bahwa kamu sdh sempurna, & aku tdk ingin merubahmu. kamu adalah dirimu sendiri. kamu cantik & baik bagiku. tdk ada satupun dr pribadimu yg kudapatkan kurang".
seketika wajah wanita itupun tertunduk, pipinya merah merona krn malu mendengar ungkapan isi hati dr lelaki kekasihnya ini. bahwa lelaki ini Menerimanya apa adanya.

Sabtu, 18 Agustus 2012

Memilih Kawan Seperjuangan

Perjalanan panjang jihad dan perjuangan menegakkan kalimah Allah di muka bumi, menuntut komitmen, kesungguhan, kerja keras, dan semangat yang tak kunjung padam. Untuk memelihara semangat dalam jangka yang panjang, bukan persoalan sederhana. Hanya orang-orang yang benar-benar sabar, tulus, dan ikhlas saja yang bisa membawa semangatnya hingga dalam waktu yang sangat panjang. Adapun orang-orang yang dalam dirinya masih dikuasai oleh interest, kepentingan pribadi, keluarga dan golongannya, maka orang-orang seperti ini akan mudah putus di tengah jalan.
Demikian pula halnya dengan mereka yang melandasi perjuangannya tidak semata-mata lillahi ta’ala. Di balik perjuangannya masih tersimpan berbagai tujuan, motivasi, dan harapan-harapan lain, selain ridha Allah semata. Orang-orang seperti ini akan mudah tergoda, goyah pendiriannya, dan pada akhirnya akan tumbang di tengah badai dan arus kehidupan materiil yang sedang berkuasa.
Selain mengikhlaskan diri semata-mata karena Allah dalam setiap langkah dan gerak perjuangan, hal penting untuk menjaga semangat tak kunjung padam adalah dengan memilih teman. Dalam perjuangan, memilih teman sangat mutlak dilakukan. Jangan berteman dengan sembarang orang.
Setiap pejuang pasti akan mengalami masa-masa kritis, baik secara moril maupun materiil. Pada saat-saat seperti itu peran teman sangat penting. Jika teman yang menyertainya adalah orang-orang yang lemah, maka dengan sendirinya moral sang pejuang akan jatuh, larut dalam kesedihan, ketakutan, dan kekhawatiran yang tidak semestinya. Nasihat teman pada saat-saat kritis seperti itu sangat menetukan.
Itulah sebabnya Rasulullah berpesan kepada ummatnya:Seseorang itu akan (ikut berada) pada agama temannya. Oleh karena itu, hendaklah salah seorang di antara kamu memperhatikan siapa temannya itu. (HR Tirmidzi)
Sungguh sangat beruntung orang yang memiliki teman yang baik. Ketika kita sedang menghadapi masa-masa kritis, maka sang teman datang memberi hiburan, memberi semangat, spirit, dan menumbuhkan harapan-harapan. Teman baik itu akan mengajak kita untuk tetap bersabar terhadap segala yang menimpa kita. Bukankah Allah selalu menguji hamba-hamba-Nya yang berjihad di jalan-Nya?
Pada saat lapang, teman baik itu juga tetap menyemangati kita untuk tetap waspada, hati-hati menghadapi segala pesona dunia. Teman baik itu akan selalu mengingatkan tentang kehidupan sederhana, peduli pada nasib sesama, dan mengingatkan pula tentang berbagai kewajiban yang harus kita tunaikan sebagai hamba-Nya. Teman yang baik pastilah menjadi patner yang cocok dalam rangka saling berwasiat tentang kebenaran, tentang kesabaran, dan saling berwasiat tentang kasih sayang.
Rasulullah bersabda:Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk itu bagaikan pembawa minyak kesturi dengan peniup api. Pembawa minyak kesturi, baik dia memberimu, atau engkau membeli darinya, engkau akan mendapatkan bau yang harum darinya. Sedangkan peniup api, baik ia akan membakar pakaianmu ataukah engkau akan mendapatkan bau yang busuk darinya. (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Sebelum kita menyesal nanti di akhirat akibat kesalahan kita memilih teman semasa hidup di dunia, maka sejak sekarang kita harus bersungguh-sungguh memilih orang yang bisa kita jadikan teman baik. Jangan sembarang orang, tapi pilih dan saringlah mereka.
Teman yang baik adalah mereka yang bisa mengingatkan kesalahan kita, bukan orang yang hanya bisa memuji dan menyanjung. Teman yang baik adalah teman yang bisa bersama kita pada saat-saat kita menghadapi masa kritis. Mereka masih tetap bersama kita, di kala semua orang meninggalkan kita. Rasulullah saw sendiri selalu memilih-milih teman. Dan adalah Abu Bakar yang akhirnya dipilih menjadi teman sejatinya, termasuk pada saat-saat kritis ketika akan berhijrah ke Madinah.
Abu Bakarlah yang dijaka masuk ke gua Tsur untuk bersembunyi menghindari kejaran musuh. Abu Bakarlah yang akhirnya disebut Ash-Shiddiq, karena ia selalu membenarkan apa saja yang disampaikan Nabi.
Alangkah indahnya persahabatan antara Nabi dan Abu Bakar. Ibaratnya, orang baik berteman dengan orang baik, maka semuanya akan menjadi kebaikan. Sebaliknya, orang jelek berteman dengan orang jahat, maka dapat dipastikan akan melahirkan berbagai tindak kejahatan. Demikian pula orang baik bila berteman orang yang jahat, maka dikhawatirkan kebaikannya akan menjadi berkurang, dan pelan-pelan akan digantikan kejelekan.
Untuk itu, sekali lagi, hindari teman buruk. Sebelum menyesal di hari kemudian, kita tentukan sekarang kepada siapa kita berteman.
Allah berfirman:Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab (-ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syetan itu tidak mau menolong manusia. (QS Al-Furqaan: 27 – 29)*
(Sumber: Hidayatullah | PIP PKS-ANZ | pks-anz.org)

Kamis, 09 Agustus 2012

Asyiknya Jadi Pengemban Dakwah

Oleh : hafidz
Jadi pengemban dakwah? Hmm… di mata remaja, sepertinya ‘jabatan' ini kalah menarik dibanding kontes menjadi bintang yang kian menjamur. Meski kagak pake audisi atau ekstradisi yang bikin sensasi, tetep aja remaja yang terjun ke dunia dakwah bisa dihitung pake jari. Padahal untuk jadi pengemban dakwah, nggak kudu bisa nyanyi, nari, atau akting. Cukup bermodalkan keimanan, ilmu, dan kemauan. Sayangnya, justru tiga faktor itu yang lumayan langka ditemuin pada mayoritas remaja yang kian terhipnotis gaya hidup hedonis. Gaswat!

Kalo kita sempet nanya kenapa seseorang nggak atau belum mau ikut berdakwah, pasti mereka segera ngeluarin kunci gembok buat bongkar gudang alasannya. Soalnya mereka juga ngerti kalo dakwah itu wajib. Cuma masalahnya, banyak orang yang ngerasa belon siap ngadepin risiko dakwah. Emang apa sih risiko dakwah?

Itu lho, gosipnya ada anak yang Dijauhin temen lantaran cerewet ngingetin untuk nutup aurat, nggak pacaran, atau antitawuran. Tereliminasi dari kantor saat bawa-bawa aturan Islam ke alam kapitalis di dunia kerja. Diancam skorsing dari sekolah ketika ngotot pengen pake seragam yang nyar'i. Atau malah berhadapan dengan aparat keamanan karena dituding terlibat aksi pemboman. Waduh!

Kebayang kan, kalo berita duka seputar lika-liku aktivis dakwah kayak di atas lebih populer dibanding ridho Allah yang menyertai kegiatan dakwah. Udah pasti bayangan rasa takut bin cemas selalu menghantui pas lagi mujur ada kesempatan untuk berdakwah. Jangankan jadi pengemban dakwah, sekadar menyuarakan Islam aja mungkin malu. Repot juga kalo kayak gini.

Disayang Allah, lho…

Bener sobat. Kita sekadar ngingetin aja, kalo jadi pengemban dakwah udah pasti disayang Allah. Allah swt. berfirman:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru manusia menuju Allah?” (QS Fushhilat [41]: 33)

Menurut Imam al-Hasan, ayat di atas berlaku umum buat siapa aja yang menyeru manusia ke jalan Allah (al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi ). Mereka, menurut Imam Hasan al-Bashri, adalah kekasih Allah, wali Allah, dan pilihan Allah. Mereka adalah penduduk bumi yang paling dicintai Allah karena dakwah yang diserukannya. Bener kan?

Selain itu, pujian bagi para pengemban dakwah senantiasa disampaikan Rasulullah untuk mengobarkan semangat para shahabat dan umatnya. Seperti dituturkan Abu Hurairah: “Siapa saja yang menyeru manusia pada hidayah, maka ia mendapatkan pahala sebesar yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.” ( HR Muslim )

Nggak heran dong kalo para shahabat Rasulullah begitu gigih bin pantang menyerah dalam berdakwah. Sebagian besar waktu, tenaga, pikiran, harta-benda, keluarga bahkan nyawa pun rela mereka korbankan untuk dapetin pahala Allah yang melimpah dalam aktivitas dakwah. Kalo nggak begitu, mana mungkin nenek moyang kita dan juga kita mengenal Islam dan menjadi penganutnya. Bener nggak seh?

Dan kita pun bisa seperti para shahabat. Walau nggak hidup di zaman Rasulullah, tapi warisan beliau yang berupa al-Quran dan as-Sunnah tetep eksis sampe sekarang dan terjaga kemurniannya. Tinggal kemauan kita aja untuk serius mempelajari, memahami, meyakini, dan mengamalkan warisan itu. Mau dong? Heu'euh!

Nilai plus lainnya

Bay de wey sobat, ternyata aktivitas dakwah nggak cuma berlimpah pahala. Dari sisi psikologis, aktivitas dakwah sangat membantu remaja untuk mengenali diri dan masa depannya. Asli!

Menurut Maurice J. Elias, dkk dalam bukunya berjudul “ Cara-cara Efektif Mengasuh EQ Remaja ”, ada beberapa hal yang dibutuhkan remaja untuk jalanin tugas di atas.

Pertama , hubungan spiritualitas . Ketika menginjak masa remaja, normalnya kita mulai berpikir tentang makna dan tujuan hidup yang sangat erat kaitannya dengan agama. Karena hal ini bakal membimbing kita dalam jalani hidup dan membingkai masa depan.

Ketika terjun ke dunia dakwah, seorang remaja muslim akan menemukan arti dan tujuan hidup yang hakiki. Dia diciptakan oleh Allah Swt. untuk beribadah sepanjang hayat dikandung badan. Untuk itu, Allah menurunkan aturan hidup yang lengkap en sempurna tanpa cacat cela bagi manusia. Agar manusia bisa beribadah nggak cuma di masjid atau majelis ta'lim. Tapi di mana saja, kapan saja selama terikat dengan aturan Allah. Selain itu, dengan pemahaman ini remaja akan termotivasi dan terarah dalam membingkai masa depan ideal dunia akhirat sesuai identitas kemuslimannya.

Kedua , penghargaan . Setiap remaja kayak kita-kita pasti membutuhkan hal ini untuk mengembangkan potensi dan kemampuan diri. Aktivitas dakwah akan menyalurkan secara positif bakat dan potensi yang kita miliki untuk kebangkitan Islam dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Hebatnya, insya Allah kita bakal dapetin juga penghargaan atas prestasi itu langsung dari Allah swt. Hmm… yummy!

Ketiga , rasa memiliki . Remaja seusia kita sering termotivasi untuk bergabung dalam kelompok yang memiliki dan dimiliki kita. Karena di sana kita bisa belajar banyak hal, tambahan informasi, konsultasi gratis, merasa aman, nyaman, dan diterima. Tempat yang tepat jika kita ikut dalam komunitas dakwah. Rasa kebersamaan, sikap empati, simpati, dan pertolongan tanpa pamrih antar individu dalam komunitas ini, lahir dari keimanan. Itu berarti nggak mudah luntur karena perbedaan status sosial atau pendidikan.

Keempat , kecakapan dan kepercayaan diri . Remaja seumuran kita sering terlihat pengen diakui kalo doi cakap alias mampu dan percaya diri untuk jalanin hidup mandiri. Mampu menentukan pilihan atau mengatasi masalah tanpa bergantung kepada orang lain.

Dalam lingkungan dakwah, kita bakal dilatih untuk berpikir panjang merunut setiap permasalahan dan mencari pemecahannya sesuai aturan Islam yang pasti mendatangkan maslahat. Ketegasan sikap kita bisa lahir dari kemandirian yang ditopang oleh pemahaman Islam. Kita juga dilatih untuk mengambil hikmah dalam setiap musibah atau kegagalan yang menimpa kita semua. Karena kita-kita paham, apa pun yang menimpa diri kita, itu adalah jalan terbaik yang Allah berikan. Jadi nggak ada kamus stres bin uring-uringan pas ngadepin masalah bagi para pengemban dakwah. Tetep semangat. Catet tuh!

Kelima , konstribusi . Merasa ngasih kontribusi alias ikut berperan serta, nggak egois bin individualis, atau sikap dermawan sangat penting buat perkembangan identitas yang sehat pada remaja seusia kita. Dengan begini kita-kita bakal terlatih untuk peduli dan peka terhadap permasalahan di sekitar kita. Sehingga kita termotivasi untuk mengembangkan kemampuan diri biar bisa ikut beresin masalah itu.

Dan semua perasaan di atas pasti bakal didapetin kita-kita dalam aktivitas dakwah. Selain bernilai pahala, kita bakal ngerti kalo masalah dunia atau masyarakat juga masalah kita. Kita juga wajib ngerasa bertanggung jawab dengan akibat dan penyebab masalah itu. Karena kita bakal kecipratan dampak buruk masalah itu kalo dibiarin. Betul?

Nah sobat, ternyata nggak ada ruginya kan terjun ke dunia dakwah. Dilihat dari sisi mana aja, jadi pengemban dakwah pasti berlimpah berkah. Masa nggak kepengen?

Nikmati risiko dakwah

Risiko dakwah mah udah sunntatullah atuh alias wajar terjadi. Bayangin aja, yang kita dakwahkan ajaran Islam. Sementara obyek dakwah kita yang di rumah, sekolah, kampus, atau tempat kerja semuanya udah kadung diselimuti aturan sekuler yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Otomatis dakwah kita nggak akan berjalan semulus di jalan tol.

Makanya kita nggak usah bermimpi kalo dakwah itu tanpa rintangan. Justru kita kudu siapkan nyali untuk hadapi risiko dalam dakwah demi meraih ridho Allah. Kita bisa contoh 75 orang muslim dari suku Khajraj saat terjadi peristiwa Bai'atul Aqabah kedua. Saat itu salah seorang paman Nabi yang melindungi dakwah beliau meski bukan muslim, bernama ‘Abbas bin Ubadah, mengingatkan kaum muslim dari Khajraj itu akan risiko dakwah yang akan dihadapi jika tetap membai'at Nabi.

Kaum itu pun menjawab, “Sesungguhnya kami akan mengambilnya (membai'at Nabi saw) meski dengan risiko musnahnya harta benda dan terbunuhnya banyak tokoh.” Kemudian mereka berpaling pada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami memenuhi (seruan)mu, maka apa balasannya bagi kami?” “Surga”, jawab beliau dengan tenang. ( Negara Islam , Taqqiyuddin an-Nabhani)

Nah sobat, ternyata risiko dalam dakwah adalah jalan menuju surga Allah yang selama ini kita rindukan. Seberat apapun jalan itu, kita hanya perlu bersabar dan tetep istiqomah. Abu Dawud telah meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad hasan: “Setelah engkau akan datang masa kesabaran. Sabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Orang-orang yang bersabar akan mendapatkan pahala sebagaimana lima puluh orang laki-laki yang mengerjakan perbuatan tersebut. Para shahabat bertanya , “Wahai Rasulullah, apakah pahala lima puluh (laki-laki) di antara mereka?” Rasul menjawab , “Bukan, tetapi pahala lima puluh orang laki-laki di antara kalian”

Kita juga nggak punya alasan untuk berdiam diri membiarkan kemaksiatan merajalela karena khawatir akan dekatnya ajal, seretnya rizki, atau jauhnya jodoh. Soalnya kan yang ngasih rizki adalah Allah. Yang nentuin jodoh kita Allah. Yang nyuruh Malaikat Ijrail nyabut nyawa kita juga Allah. Bukannya semua urusan hidup kita akan terasa mudah kalo kita disayang ama Allah dengan ngikutin perintahNya seperti aktif dalam dakwah?

Pengemban dakwah Islam ideologis

Satu hal lagi yang kita nggak boleh lupa. Bagusnya kita nggak merasa cukup dengan mendakwahkan Islam cuma sebagian. Seolah perbaikan moral atau peningkatan akhlak individu masyarakat menjadi solusi pamungkas dalam setiap permasalahan. Padahal syariat Islam itu begitu luas mencakup solusi dalam permasalahan pemerintahan, ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dll.

Karena itu kita wajib memahami dan mendakwahkan Islam sebagai Nidzhomul hayah alias aturan hidup yang nggak cuma ngatur ibadah atau akhlak semata. Islam yang memiliki peran sebagai qaidah fikriyah (landasan berpikir) dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir). Sebagai qaidah fikriyah , Islam akan menjadi filter alias saringan sekaligus tameng menghadapi serangan pemikiran dan budaya Barat sekuler. Dan sebagai qiyadah fikriyah , Islam akan membimbing kita dalam menyelesaikan dan mencegah terulangnya setiap masalah hidup yang mampir ke kita dengan tuntas dan berpahala.

Sobat muda muslim, kalo kamu punya nyali, mari kita libatkan diri kita untuk memperkuat barisan perjuangan menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi. Jangan sampe jalan menuju surga dalam aktivitas dakwah, kita pandang sebelah mata. Ntar nyesel lho. Berani? Pasti dong!

Wahai Aktivis Dakwah

Ikhwanul Muslim,
Langkah kalian penggerak jihad
Seruan kalian penggema syari'at
Sikap kalian ciri pemimpin sejati
Yang meninggikan Islam
Di atas Qur'an dan Sunnah

Akhwatush Sholihah
Doa kalian penyangga hati
Izzah kalian penyemangat jiwa
Sikap kalian ciri bidadari
Pendamping para mujahid
Di bawah cinta sang Robbi


Allohu Akbar...Allohu Akbar
Bangunlah wahai aktivis dakwah
Bulatkan tekad, satukan ukhuwah
Pembela umat, eratkan persaudaraan

Allohu Akbar...Allohu Akbar
Bangkitlah wahai aktivis dakwah
Nyalakan semangat, jangan pernah gentar
Hadapi segala rintangan, enyahkan kebathilan

Allohu Akbar...Allohu Akbar
Berjuanglah wahai aktivis dakwah
Jauhi maksiat, tumpas kedzaliman
Penerus perjuangan para tentara Alloh

Allohu Akbar...Allohu Akbar
Bergeraklah wahai aktivis dakwah
Penegak syiar Islam, penggerak sunnah
Bukti cinta para perindu Jannah

Senin, 06 Agustus 2012

Agar Diri dan Liqo Kita Berkah


Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup (Maryam: 31)
Dalam banyak momentum, kita sering mendengar ungkapan: laisat al-’ibrah bi al-katsrah, innamâ bi al-barakah (yang penting bukan banyak, tapi berkah). Ada lagi ungkapan: al-harakah fîhâ al-barakah (keberkahan ada pada pergerakan).
Saya tidak dalam konteks mengemukakan dalil atas dua ungkapan di atas. Akan tetapi, saya hanya ingin menekankan pada kosa kata barakah yang berarti keberkahan.

Menurut dalil-dalil Al-Qur’ân dan Al-Hadîts, banyak sekali hal-hal yang dinyatakan memiliki keberkahan, misalnya Al-Masjid Al-Aqshâ, Allâh –subhânahu wa ta’âlâ- menyatakan bahwa sekelilingnya adalah tempat yang diberkahi oleh-Nya (Al-Isrâ’: 1).
Misalnya lagi adalah Al-Qur’ân, Kitâb Allâh, ia adalah kitab yang Mubârak (diberkahi oleh Allâh –subhânahu wa ta’âlâ). (Al-An’âm: 92, 155), (Al-Anbiyâ’: 50), (Shâd: 29), bahkan bukan hanya Al-Qur’ân yang diberkahi, akan tetapi, malam waktu turunnya yang pertama kali juga merupakan lailatun mubârakatun (malam yang diberkahi oleh Allâh –subhânahu wa ta’âlâ-) (Al-Qadar: Al-Dukhân: 3), malaikat yang membawanya turun juga malaikat yang mubârak, nabi yang menerimanya juga merupakan nabi yang mubârak, umat yang menerimanya adalah ummatun mubârakatun (umat yang diberkahi), tempat turunnya juga merupakan tempat yang mubârak dan semua yang berkaitan dengannya adalah mubârak, sebab memang turun dari Dzât yang tabârak (yang keberkahannya terus bertambah dan bertambah) (Al-Furqân: 1).

Lalu, adakah ayat yang secara eksplisit menjelaskan bahwa di dunia ini adalah manusia yang mubârak? Dan adakah keberkahan manusia itu dapat diupayakan, dalam arti, mungkinkan manusia “biasa” menghiasi diri dengan suatu sifat dan akhlaq tertentu, atau ia melakukan sesuatu, lalu karenanya ia menjadi manusia yang mubârak? Dan jika pertanyaan seperti ini kita bawa kepada liqâ-ât (pertemuan-pertemuan) dan ijtimâ’ât (rapat-rapat) yang manusia “modern” tidak dapat terlepas darinya, adakah di dunia ini liqâ-ât atau ijtimâ’ât yang mubârakah?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini, marilah kita ikuti potongan dari sebuah surat yang ditulis oleh Ibn Al-Qayyîm kepada Alâ’ al-Dîn, seorang “saudaranya”.
Ibn Al-Qayyîm menulis demikian:

Dengan menyebut nama Allâh, Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.
Allâhlah Dzat tempat kita meminta Yang Diharap Keterkabulannya. Semoga Dia berbuat ihsân kepada al-akh ‘Ala’ al-Dîn di dunia dan akhirat, menjadikannya orang yang bermanfaat dan membawa keberkahan di mana pun ia berada. Sebab, keberkahan seseorang ada pada:
  • Pengajarannya terhadap segala macam kebajikan di mana pun ia berada, dan
  • Nasehat yang ia berikan kepada semua orang yang ijtimâ’ (berkumpul, rapat) dengannya.
Saat menceritakan tentang nabi ‘Îsâ –’alaihi al-salâm- Allâh –subhânahu wa ta’âlâ- berfirman:
“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada”. (Maryam: 31)
Nabi ‘Îsâ – ‘alaihi al-salâm- menjadi manusia yang membawa berkah adalah karena ia:


  1. Menjadi guru kebajikan
  2. Juru dakwah yang menyeru manusia kepada Allâh –subhânahu wa ta’âlâ-
  3. Mengingatkan manusia tentang Allâh –subhânahu wa ta’âlâ-
  4. Mendorong dan memotivasi manusia untuk taat kepada Allâh –subhânahu wa ta’âlâ-
Inilah bagian dari keberkahan seseorang, siapa saja yang tidak memiliki hal ini, maka, ia telah kosong dari keberkahan, keberkahan eksistensi dan ijtimâ’ (berkumpul, rapat) dengannya telah dihapus, bahkan, keberkahan orang-orang yang liqâ’ (bertemu) dan ijtimâ’ (berkumpul, rapat) dengannya juga dihapuskan, sebab, ia hanyalah:
  1. Membuang-buang waktu dalam kehidupan, dan
  2. Merusak hati.
Dan semua âfat (bencana, problem, musykilah) yang datang kepada seorang manusia, penyebabnya adalah waktu yang tersia-sia dan hati yang rusak, dan keduanya merupakan akibat dari:
  1. Tersia-sianya “posisi” dia di sisi Allâh –subhânahu wa ta’âlâ-, dan
  2. Turunnya tingkatan dan kedudukan dia di sisi Allâh –subhânahu wa ta’âlâ-
Oleh karena inilah, sebagian masyâyikh berpesan:
“Waspadalah, jangan mukhâlathah (berkumpul, bergaul) dengan seseorang yang menyebabkan waktu terbuang sia-sia dan menyebabkan hari rusak, sebab, jika waktu telah terbuang sia-sia, dan hati rusak, maka segala urusan manusia menjadi berantakan, dan ia termasuk dalam cakupan firman Allâh –subhânahu wa ta’âlâ-:
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (Al-Kahfi: 28).
Dan siapa saja yang mencermati keadaan manusia di bumi ini, ia akan mendapati bahwa mereka – kecuali sangat-sangat sedikit – termasuk dalam kategori:
  1. Orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Allâh –subhânahu wa ta’âlâ-
  2. Orang-orang yang mengikuti hawa nafsu
Akibatnya, segala urusan dan kemaslahatan mereka menjadi tercerai berai, tidak membawa manfaat kepada mereka, bahkan madharatnya malah menimpa mereka, baik urusan di dunia maupun akhirat
Dari kutipan panjang di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa kita catat untuk kehidupan dakwah kita sekarang ini, antara lain:
  1. Seseorang dapat menjadi sumber keberkahan, manakala memiliki sifat dan karakter sebagai berikut:
    • Menjadi guru untuk segala macam kebaikan
    • Memberi nasihat kepada semua orang yang ia temui dan yang berkumpul dengannya
    • Menjadi juru dakwah yang mengajak manusia untuk kembali kepada Allâh –subhânahu wa ta’âlâ-
    • Menjadi pengingat manusia agar mereka tidak lalai
    • Memotivasi manusia untuk terus taat kepada Allâh –subhânahu wa ta’âlâ-
  2. Jika seseorang tidak memiliki karakter di atas, maka, ia telah menjadi manusia yang tidak memiliki keberkahan, bahkan keberadaannya menjadi penyebab hilangnya keberkahan.
  3. Suatu liqâ’ atau ijtimâ’ dapat menjadi berkah manakala diisi oleh orang-orang yang memiliki karakter di atas, dan agendanya memang memenuhi criteria seperti itu pula.
  4. Jika suatu liqâ’ atau ijtimâ’ telah kehilangan suasana seperti di atas, maka liqâ’ atau ijtimâ’ itu hanyalah membuang-buang waktu dan merusak hati saja.
  5. Liqâ’ atau ijtimâ’ yang tidak memenuhi kriteria seperti di atas, menjadi penyebab segala urusan dan kemaslahatan berantakan dan berakibat mendatangkan segala macam kemadharatan.
  6. Suatu liqâ’ atau ijtimâ’ bisa saja kehilangan kriteria-kriteria seperti di atas, jika para pengisinya, atau pemimpinnya, atau pesertanya telah jatuh di Mata Allâh –subhânahu wa ta’âlâ-, na’ûdzu billâh min dzâlik.
Surat Ibn Al-Qayyîm ini merupakan surat seorang mujarrib (berpengalaman) yang – insyaAllâh – dengan bashîrah-nya telah memberikan penerangan kepada kita, bagaimana seharusnya kita mengelola liqâ’ât dan ijtimâ’ât kita, agar kita, liqâ’ât dan ijtimâ’ât kita menjadi sumber keberkahan dalam kehidupan di dunia ini yang akan kita nikmati hasilnya di surga nanti, bi-idznillâh, Amin.  ( Oleh: Musyaffa Ahmad Rohim, Lc )

Jumat, 03 Agustus 2012

Kematian Itu Indah


Ada sebuah perbincangan yang menarik antara seorang ustadz dengan jamaah pengajiannya. Sang Ustadz bertanya kepada jamaahnya "Ibu-Ibu mau masuk surga?" Serempak ibu-ibu menjawab "mauuuu…." Sang ustadz kembali bertanya "Ibu-ibu ingin mati hari ini tidak?". Tak ada satupun yang menjawab. Rupanya tidak ada satupun yang kepengen mati. Dengan tersenyum ustadz tersebut berkata "Lha gimana mau masuk surga kalo gak mati-mati".

ustadz itu meneruskan pertanyaannya "Ibu-ibu mau saya doakan panjang umur?" Dengan semangat ibu-ibu menjawab "mauuu…." Pak Ustadz kembali bertanya "Berapa lama ibu-ibu mau hidup? Seratus tahun? Dua ratus atau bahkan seribu tahun? Orang yang berumur 80 tahun saja sudah kelihatan tergopoh-gopoh apalagi yang berumur ratusan tahun".

Rupanya pertanyaan tadi tidak selesai sampai disitu. Sang ustadz masih terus bertanya "Ibu-ibu cinta dengan Allah tidak" Jawabannya bisa ditebak. Ibu-ibu serempak menjawab iya. Sang ustadz kemudian berkata "Biasanya kalo orang jatuh cinta, dia selalu rindu untuk berjumpa dengan kekasihnya, Apakah ibu-ibu sudah rindu ingin bertemu Allah?" Hening. Tidak ada yang menjawab.

Kebanyakan dari kita ngeri membicarakan tentang kematian. Jangankan membicarakan, membayangkannya saja kita tidak berani. Jawabannya adalah karena kita tidak siap menghadapi peristiwa setelah kematian. Padahal, siap tidak siap kita pasti akan menjalaninya. Siap tidak siap kematian pasti akan datang menjemput. Daripada selalu berdalih tidak siap lebih baik mulai dari sekarang kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian.

Persiapan terbaik adalah dengan selalu mengingat mati. Yakinkan pada diri kita bahwa kematian adalah pintu menuju Allah. Kematian adalah jalan menuju tempat yang indah, surga. Dengan selalu mengingat mati kita akan selalu berusaha agar setiap tindakan yang kita lakukan merupakan langkah-langkah menuju surga yang penuh kenikmatan.

Hakekat kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan kembali menuju Allah. Dalam perjalanan yang singkat ini ada yang kembali dengan selamat, namun ada yang tersesat di neraka. Kita terlalu disibukkan oleh dunia hingga merasa bahwa dunia inilah kehidupan yang sebenarnya. Kita seakan lupa bahwa hidup ini hanya sekedar mampir untuk mencari bekal pulang. Kemilaunya keindahan dunia membuat kita terlena untuk menapaki jalan pulang.

Rasulullah pernah berkata orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu mengingat mati. Dengan kata lain orang yang paling cerdas adalah orang yang mempunyai visi jauh ke depan. Dengan selalu mengingat visi atau tujuan hidupnya ia akan selalu bergairah melangkah ke depan. Visi seorang muslim tidak hanya dibatasi oleh kehidupan di dunia ini saja namun lebih dari itu, visinya jauh melintasi batas kehidupan di dunia. Visi seorang muslim adalah kembali dan berjumpa dengan Allah. Baginya saat-saat kematian adalah saat-saat yang indah karena sebentar lagi akan berjumpa dengan sang kekasih yang selama ini dirindukan.

Terkadang kita takut mati karena kematian akan memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai. Orang tua, saudara, suami/istri, anak. Ini menandakan kita lebih mencintai mereka ketimbang Allah. Jika kita benar-benar cinta kepada Allah maka kematian ibarat sebuah undangan mesra dari Allah.

Namun begitu kita tidak boleh meminta untuk mati. Mati sia-sia dan tanpa alasan yang jelas justru akan menjauhkan kita dari Allah. Mati bunuh diri adalah wujud keputusasaan atas kasih sayang Allah. Ingin segera mati karena kesulitan dunia menandakan kita ingin lari dari kenyataan hidup. Mati yang baik

Kamis, 26 Juli 2012

Ibu... Sesejuk Embun....

Kata mereka, aku lahir dari rahim ibu…
Bila haus, yang memberi aku susu, ibu…
Bila lapar, yang menyuapkan aku, ibu…
Bila kesepian, yang senantiasa disampingku, ibu…
Bila bangun tidur, orang yang pertama aku cari, ibu…
Bila aku bersedih, orang yang menghiburku, ibu…
Apabila aku tersalah, orang yang menegurku, ibu…
Bila aku nakal, yang memaharahiku, ibu…
Bila aku takut, yang menenangkan aku, ibu…
Bila aku senang, orang yang pertama kuberitahu, ibu…
Bila aku sakit, orang yang menjagaku hingga tak tidur, ibu..
Bila aku bermasalah, yang paling risau, ibu…
Bila aku akan ujian, orang yang paling sibuk mengingatkan belajar, ibu…

Aku selalu ingat,
Bila aku terluka, yang kupanggil, kata “ibuuuu…’
Bila aku malas makan, yang masak kesukaanku, ibu…
Apabila aku salah, orang yang mengingatkan aku, ibu…
Yang selalu kucium pipinya, ibu…
Yang selalu puji aku, ibu…
Yang selalu mendoakanku, ibu…

Jika aku mendapat gajih pertama, orang yang hendak ku beri hadiah, ibu…
Kemudian setelah menikah, aku hidup dengan pasanganku.
Bila senang, aku cari pasanganku
Bila sedih, aku cari ibu…
Bila sukses, aku ceritakan pada pasanganku
Bila gagal, aku ceritakan pada ibu…
Bila libur, aku jalan-jalan dengan keluarga baruku
Bila sibuk, aku titipkan anak pada ibu…
Aku lupa menelpon ibu, apa lagi hanya sekedar bertanya kabarnya

Ibu selalu berkata :
“tak usah kau fikirkan ibu, ibu selalu baik-baik saja, tak usah fikirkan hendak memberi uang kepada ibu, maafkan ibu jika selama ini tak bisa membahagiakanmu…”

Ya Rabb… begitu mulia hati ibu….
Lalu… sudahkah kita menjadi anak yang senantiasa member yang terbaik untuknya???

Manajemen Diri Aktivis Dakwah

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh (manusia) kepada yang ma’ruf dan mencegah (manusia) dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron [3] : 110)

Dalam sebuah dialog tentang permasalahan umat Islam saat ini, ada sebuah analisa bahwa salah satu penyebab ‘kegagalan’ umat Islam adalah karena kurang adanya koordinasi dan kerjasama yang baik antar sesama umat Islam. Padahal umat lain sepertinya melaksanakan agenda-agenda mereka dengan teratur, rapi, terkoordinir dan jelas dengan dukungan finansial yang kuat.
Pendapat lain mengatakan bahwa karena umat Islam sendiri yang belum bekerja dengan maksimal dan belum menunjukkan prestasi yang menggembirakan dalam mengembangkan dakwah ini. Tidak banyak prestasi yang diukir oleh para pemikir Islam, para ilmuwan, ulama maupun para profesional lain kecuali hanya beberapa orang yang jumlahnya bisa dihitung.
Prestasi ! Sebuah kata yang menunjukkan keberhasilan seseorang mencapai kesuksesan maupun keberhasilan, apapun bentuknya. Petani yang bekerja setiap hari mencangkul, menanam, mengairi sawah, menyiangi tanaman, merawat, memberi pupuk sampai menjaga dari serangan tikus, maka saat ia panen dan mendapatkan hasil yang melimpah, maka itulah prestasi seorang petani.  Seorang pejuang yang berhasil melumpuhkan lawannya bahkan sampai memporak-porandakan pasukan musuh juga dinamakan orang yang berprestasi. Seorang pelajar atau mahasiswa yang berhasil meraih peringkat (rangking) di kelasnya adalah pelajar berprestasi. Demikian juga seorang da’i juga memiliki kesempatan mengukir prestasi yang memuaskan dalam dakwahnya.

Etos Kerja Pelaku Dakwah
Salah satu kiat mencapai sukses seperti yang disebutkan dalam buku “Menjadi Pribadi Sukses” terbitan Asy-Syamil, 2002 adalah dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen dalam aktivitasnya. Dan menerapkan prinsip manajemen dalam dakwah bukan merupakan hal yang dilarang namun justru menjadi keniscayaan yang akan meningkatkan produktivitas dakwah. Penerapan prinsip seperti ini jika dilakukan dengan konsisten dan terus menerus (istimrar) maka akan menjadi etos kerja orang tersebut.
Paling tidak ada 5 prinsip yang dapat dijadikan landasan bagi pelaku dakwah untuk melakukan tugas-tugas dakwah:

1.      Kerja Keras (Mujahadah)
Prinsip kerja yang pertama yang harus dimiliki oleh seorang muslim sebagai pribadi yang unggul adalah kemauan untuk selalu bekerja keras. Dalam Islam kita mengenal satu kata yang menjadi idiom bahkan maknanya menjadi begitu dahsyat manakala idiom tersebut diaplikasikan dalam kehidupan umatnya, yakni Jihad! Jihad dalam arti apapun telah mampu membangkitkan semangat juang yang tinggi bagi pemeluknya. Ketika jihad diartikan sebagai “berperang di jalan Allah” maka kata tersebut telah mampu membuat umat Islam berjuang dengan jiwa dan raga untuk menegakkan kemulian Islam ketika ada musuh yang menginjak-injak kehormatan agamanya.
Sedangkan ketika kata tersebut diartikan sebagai “bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan sesuatu - yang tentunya sesuai dengan syariat Allah-” maka idiom ini mampu menumbuhkan motivasi dengan amat dahsyat bagi orang yang meyakini.
Allah telah menjanjikan balasan akan kesuksesan yang luar biasa bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh ini dalam firman-Nya “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut [26]:69)
Dan dengan kerja keras inilah Muhammad SAW berhasil mendakwahkan Islam sampai ke seluruh pelosok negeri Arab, bahkan telah berhasil menumbuhkan kader-kader yang mampu membawa perubahan besar terhadap peradaban dunia. Dengan kerja keras pula kita akan mampu mencapai kesuksesan hidup. Maka hanya orang-orang yang berkerja keras pula lah yang berhasil menciptakan prestasi besar.

2.      Kerja Cerdas (Profesional)
Hanya bekerja keras tanpa perencanaan yang cerdas kemungkinan besar juga akan menghasilkan kualitas yang tidak optimal. Oleh karena itu disamping semangat bekerja keras masih dibutuhkan daya pikir yang kuat dan perencanaan yang matang. Maka Rasulullah menempuh langkah cerdas tatkala hendak melaksanakan hijrah ke Yastrib. Perencanaan yang matang beliau lakukan dengan pembagian tugas dan optimalisasi sumberdaya yang ia miliki. Maka Rasul memilih Abu Bakar Ash Shiddiq dari golongan tua sebagai pendamping perjalanan, Ali yang punya semangat berkorban tinggi dipilih menggantikan posisi beliau di rumahnya, Asma yang cerdas dan cekatan mendapat tugas untuk support logistik dan sebagainya. Termasuk langkah cerdas memilih arah perjalanan secara memutar ke arah yang bertentangan dengan Yastrib adalah pilihan yang ditetapkan secara matang.
Demikian juga para pelaku dakwah saat ini masih dituntut untuk dapat menerapkan pola-pola kerja yang cerdas dan melaksanakan setiap kegiatan secara profesional. Ketika itulah sebuah proyek dakwah sekecil apapun bentuknya akan mendapatkan porsi perhatian yang proporsional bagi mereka. Diharapkan tidak ada lagi tumpang tindih pekerjaan, mis understanding antar pengurus, rapi, teratur, sistematis dan dilengkapi dengan pengaturan administratif yang baik.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash Shaff [61]:4)”

3.      Kerja Tuntas
Setelah memulai untuk melakukan pekerjaan maka ia hendaknya meneruskan sampai perkerjaan tersebut selesai dengan baik. Salah satu kebiasaan yang kadangkala menghinggapi para aktivis dakwah adalah meninggalkan PR (pekerjaan rumah) bagi saudaranya yang lain. Ketika ia dipercaya untuk mengemban amanah maka ia lebih mengandalkan orang lain sedangkan ia sendiri melakukan pekerjaan lainnya lagi. Bahkan ada diantaranya yang justru meninggalkan pekerjaannya untuk orang lain.
Padahal menyelesaikan pekerjaan secara tuntas adalah bukti bahwa seseorang telah mampu mengatur waktunya dengan baik. Karena ia menyadari sedemikian berharganya sang waktu dengan asumsi ia dapat melakukan pekerjaan lain atau meneruskan pekerjaan selanjutnya ketika ia telah menyelesaikan satu pekerjaan.
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.“ (QS. 94:7-8)
 Disamping itu, secara psikologis seseorang akan merasa puas jika ia telah menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik. Pengaruh psikologis ini akan membawa motivasi baru bagi orang tersebut untuk meningkatkan kualitas pada pekerjaan selanjutnya.

4.      Kerja Mawas
Tahapan selanjutnya setelah melakukan pekerjaan maka hendaklah membuat evaluasi atas pekerjaan tersebut. Evaluasi ini penting sebagai bahan untuk menilai pekerjaan yang telah kita lakukan sekaligus untuk memperbaiki semua kekurangan yang ada. Dengan evaluasi ini juga akan dilakukan peningkatan mutu dan kualitas pekerjaan.
Pengingkatan mutu dan kualitas pekerjaan dapat dilakukan dengan cara mempelajari ilmu-ilmu  terkait dengan pekerjaan, memperbaiki sistem yang ada saat ini untuk dirubah dengan sistem baru yang lebih baik.
Aktivitas mawas ini juga adalah sebagai sarana instrospeksi bagi para penyelenggara proyek dakwah untuk menilai dan melakukan perbaikan. Bekerja mawas juga adalah dengan cara mengembalikan semua urusan kepada Allah dan meyakini bahwa Allah lah yang mengatur seluruh kejadian di alam ini. Maka tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak-Nya.
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan pada diri mereka sendiri.“ (QS. Ar-Ra’d [13]:11)

5.      Kerja Ikhlas
Dan sebagaimana kita ketahui bahwa ujung setiap amal ada pada tingkat keikhlasan amal yang ia lakukan. Kerelaan menjalankan tugas-tugas dakwah, kerelaan untuk mengorbankan kenikmatan dunia untuk kebahagiaan akhirat, kerelaan untuk tidak mengeluh atas beban yang ia pikul adalah sebuah bentuk lain keikhlasan.
Pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas tanpa suatu paksaan tentunya juga akan menghasilkan kualitas yang lebih bagus apalagi jika pekerjaan tersebut dilakukan hanya untuk mencari ridha Allah, maka ia kan menjadi pekerjaan yang memiliki hasil ganda, yakni hasil yang ia dapat dari pekerjaan tersebut secara langsung (gaji, prestasi) maupun hasil yang ia petik dihari akhir berupa pahala.

Diperlukan Manajemen yang Rapi dalam Dakwah

Untuk mencapai semua keberhasilan atas prinsip-prinsi yang disampaikan di atas, masih ada yang menjadi titik berat dalam keberhasilan dakwah, yakni diperlukannya sebuah manajemen yang rapi dalam organisasi dakwah. Kejelasan distribusi tugas dan tanggungjawab adalah wujud nyata kefektifan sebuah organisasi. Setelah itu akan kita temukan organisasi yang solid, sarat dengan koordinasi dan jika semuanya telah tertata rapi, permasalahan finansial akan dengan mudah teratasi.
Dan manajemen yang rapi dalam sebuah barisan akan tercermin dari pribadi-pribadi yang ter-manage dengan baik. Ibarat shaf shalat, maka andil sesorang dalam mencapai kekhusyukan sholat jamaah sangat diperlukan bahkan mutlak diperlukan.

Belajar Bahasa Arab Sehari hari

Disini kita akan belajar sedikit mengenai Perkenalan (Introduction) dan Salam (Greetings) jadi focus ane buat kamus dasar ini.
Sedikit sedikit dapat kita praktekan dalam hubungan dengan teman baik dalam SMS atau bahasa sehari-hari selamat mencoba :





Ellayi la Murhansat = Malamku Tak Terlupakan
Kun Fii Ya Habibie = Dimanakan Kau (perempuan) Kekasih
Habibie Ya Nurul Aini = Kekasihku Wahai Cahaya Mataku
Ana Syuftak Albi Saliim = Melihatmu Hatiku Bahagia
Jazakallah Khoirin = Semoga Allah Membalas Yang Lebih Baik
Baldan Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur = Negeri Yang Aman dan Makmur serta dilimpahi Rahmat Allah
Ismi = Nama
Kaifa Halukum = Apa Kabar (Lelaki)
Kaifa Halukunna = Apa Kabar (perempuan)
Kaifa Halukuma = Apa Kabar (jamak)
Sobahul Khoir = Met Pagi
Masa’ul Khoir = Met Sore
Saba Al-khair = Pagi
Saba An-nur = Siang
Masa Al-khair = Sore
Masa An-nur = Malam
Akhi = Saudaraku Laki2
Ikhwan = Laki2
Ukhti = Saudaraku Perempuan
Akhwat = Perempuan
Afwan (Permisi) = Maaf
Mutaasif = Maafkan Saya
Antuma = Kamu (Perempuan)
Antum = Kamu (Laki-Laki)
Syukron = Trims
Tafadol= Silahkan
Faham = Mengerti
Kam = Berapa
Fulus = Uang
Wa = Dan
Halal = Boleh
Haram/La = Tidak Boleh
Ilal Liqo = Sampai Ketemu
Min Aina = Dari mana
Illa Aina = Mau Kemana
Hareem = Itu (Perempuan)
Badiru = Bersegera
Bahlul = Bodoh
Na’am = Iya/Oke
Ahlan Wa Sahlan = Selamat
IKhwan Fillah = Saudara Sekalian
Ad’uu lak = Saya Doain Kamu
Anna Fii Baiti = Saya Sedang di Rumah
Maadzaa Taf’al = Sedang Apa
Syafakallah = Semoga Allah Memberikan Kesembuhan Untukmu
Syafakillah = Semoga Allah Memberikan Kesembuhan Untukmu (Perempuan)

Copas From { jejakjejakjejak.wordpress.com }
Kritik dan Saran diperlukan untuk membantu proses belajar kita semua,semoga bermanfaat :)
>>>http://notesanom.wordpress.com