Rabu, 09 Mei 2012

Buka Topengmu, Sobat!

Amati dirimu di cermin! Apa yang kamu dapati tentang dirimu? Kamu punya wajah. Cantik? Syukurlah. Ganteng? Alhamdulillah. Jerawatan? Jangan marah. Tapi nggak mau jerawatan? Ya, ampelaslah wajahmu itu jika kamu nggak pede dengan dirimu. Mungkin karena kamu merasa lebih pede jika punya wajah selicin porselin yang sering diiklankan di tivi. Tetapi ingat, itu bisa saja palsu. Bukan dirimu. Kamu mungkin saja bisa bersandiwara di depan kawan-kawanmu bahwa dengan wajah yang mulus kamu akan dikagumi temanmu. Tetapi ingat, itu kan bukan dirimu yang asli. Kamu mengemas wajahmu agar kelihatan manis dan cantik atau ganteng di hadapan orang lain. Begitu pun ketika kamu tampil dengan karakter yang bukan dirimu. Meski kamu berusaha meyakinkan setiap orang bahwa kamu dicitrakan (digambarkan) sebagai orang yang pinter, tetapi faktanya kamu—maaf, bloon—ya suatu saat akan ketahuan juga. Meski kamu setengah hidup menjejali pikiran orang lain bahwa kamu dicitrakan sebagai orang yang dermawan, tetapi faktanya kamu justru pelit, suatu saat orang akan tahu jati dirimu yang asli. Itu artinya, kamu hidup di bawah bayang-bayang bukan dirimu. Tetapi kamu pura-pura bahwa itu dirimu. Duh, hidup kayak gitu capek, Bro en Sis. Bener lho!
Hidup kayak gitu capek? Bener banget! Lihat deh bapak-ibu yang lagi berebut suara di berbagai pilkada di tanah air. Mereka berusaha mati-matian meyakinkan masyarakat agar memilih mereka. Caranya? Membuat pencitraan. Sederhananya, membuat gambaran tentang diri mereka. Ada yang tiba-tiba dicitrakan dekat dengan wong cilik dengan harapan masyarakat melihat dan memiliki imej bahwa orang tersebut pantas untuk memimpin daerahnya. Padahal dalam kehidupan sehari-harinya, kenyataannya dia justru dekat dengan wong licik dan doyan korupsi. Ini jelas penipuan.
Bro en Sis pembaca setia gaulislam, banyak orang memanfaatkan pencitraan dirinya agar terlihat dan terekam dalam benak setiap orang tentang imej baik dirinya. Sebenarnya pada tahap awal bisa saja benar dan bernilai positif, jika memang faktanya dia seperti yang dicitrakan itu. Misalnya, ada orang yang memang baik, suka berbuat baik, menunjukkan semangat tinggi dalam kerja, sering membantu orang lain dan beragam kebaikan lainnya. Kemudian ia berusaha menunjukkan jatidirinya dengan konsisten melakukan semua itu. Maka, secara tidak langsung ia sedang melakukan pencitraan terhadap dirinya. Itu artinya, yang dia lakukan adalah mengemas, menguatkan, dan memperbaiki citra dirinya yang memang sudah melekat erat dalam karakter kepribadiannya. Tetapi jika pencitraan yang dilakukannya berbeda dengan jati dirinya yang sesungguhnya, maka itu namanya memalsukan dirinya, menipu bahkan mengkhianati banyak orang. Bahaya bener, Bro en Sis!

Mencetak ‘ingatan kolektif’
Maurice Halbwachs, sosiolog Perancis pencetus teori ingatan kolektif menyebutkan bahwa “ingatan kolektif” bukanlah metafora tetapi realitas sosial, ditransmisikan dan dilestarikan melalui upaya sadar dan institusi kelompok. Kelompok-kelompok sosial mengkontruksi imaji mereka tentang dunia melalui versi tertentu masa lalu yang mereka setujui, versi-versi yang dikonstruksi melalui komunikasi, dan bukan pengingatan individu, melainkan individu sebagai anggota kelompok. Halbwachs membedakan antara ingat otobiografis (autobiographical memory) yang merupakan pengalaman personal, ingat historis (historical memory) masa lalu yang ‘mati’ dan hanya bisa diketahui melalui catatan sejarah, dan ingatan kolektif—masa lalu yang ‘hidup’ dan aktif memberi informasi identitas kita.
BTW, kamu paham maksud paragraf di atas? Nggak? Hehehehe saya juga ampir aja nggak ngerti. Maklum, ini pelajaran sosiologi jaman kuliah dulu, jadi kadang lupa-lupa inget. Tapi saya kasih contoh terapannya aja ya. Begini Bro. Contoh ingatan kolektif adalah ketika kamu dan kawan-kawanmu ngomongin soal Korea, maka yang teringat secara massal dan kolektif bahwa saat ngobrolin tentang Korea berarti identik dengan film drama dan boyband. Mengapa bisa begitu? Karena film drama dan boyband yang ‘diproduksi’ Korea Selatan tampil konsisten dalam memberikan pencitraan kepada masyarakat penggemarnya. Coba deh dites sekarang, kamu pasti hapal juga kan film My Sassy Girl yang menampilkan akting Jun Ji Hyun dan Cha Tae Hyun? Hehehe ini film jadul tahun 2001. Atau My Tutor Friend yang diproduksi tahun 2003 dan disutradarai Kim Kyung Hyung. Drama Korea yang terbaru juga bisa kamu kenal macam Take Care of Us Captain, Salaryman Chohanji, Bachelor’s Vegetable Store dan film lainnya. Termasuk boyband mereka yag terkenal macam SuJu (Super Junior). Nah, kalo sampe sekarang kamu inget tentang Korea berarti inget drama dan boyband, berarti ingatan kolektif kamu dan remaja lainnya tentang Korea sudah terbentuk.
Sama seperti para ABG (Angkatan Buyut Gue) yang kenal Pak Sukarno (presiden pertama RI) sebagai bapak revolusi. Saat saya blogwalking, ketemulah dengan blognya Anton DH Nugrahanto tentang politik pencitraan para pemimpin Indonesia dari masa ke masa. Khusus tentang ingatan kolektif, ia menuliskan sebagai berikut contoh seputar politik pencitraan Pak Sukarno:
Pada tahun 1920-an Sukarno sudah memilih peci hitam sebagai bagian dari pencitraan kerakyatan, ia menyatukan diri dalam gerakan besar Melayu, bukan gerakan besar Jawa karena ia melihat bahwa Jawa adalah subkultur dari akar Melayu. Makanya ia memilih peci. Pemilihan peci ini dilakukan di Bandung ketika ia melihat tukang sate yang telanjang kaki, telanjang dada hanya pakai kolor tapi mengenakan peci. Ia melihat banyak rakyat Djakarta (dulu Batavia) mengenakan peci, peci ini asalnya dari tarbuz yang banyak dikenakan orang Turki, saat itu sedang ramai gerakan muda Kemal Pasya yang mengenakan tarbuz sebagai lambang nasional rakyat Turki.
Tahun 1945 Sukarno memilih baju model safari dengan kantong-kantong ala perwira, ia reka-reka sendiri model baju ini, kelak rakyat mengenalnya model ‘Baju Sukarno’ penggunaan baju ini ia ukur dengan perkembangan suasana batin jaman yang sedang mengalami gejolak revolusi, dalam masyarakat yang kacau, rakyat banyak butuh pegangan, dan satu-satunya pegangan yang bisa dijadikan tuntunan adalah “Ingatan Kolektif” dengan dasar ingatan kolektif inilah Sukarno memerintahkan Sudiro untuk mencari wartawan foto yang tiap hari harus memoto gaya Sukarno, foto-foto ini kemudian dijadikan alat hegemoni untuk terus membangun ingatan kolektif rakyat “ingat Sukarno, ingat revolusi kemerdekaan”. (http://anton-djakarta.blogspot.com)
Bro en Sis ‘penggemar’ gaulislam, mungkin kamu sekarang juga sedang berusaha mencetak ‘ingatan kolektif’ bagi kawan-kawanmu, menegaskan bahwa dirimu adalah begini dan begitu sesuai dengan keinginanmu. Sama seperti para pemimpin dunia (termasuk pemimpin di negeri ini) atau pejabat lainnya, atau bisa juga para seleb yang juga melakukan pencitraan terhadap dirinya agar dikesankan oleh banyak orang sesuai dengan harapan dan tujuannya. Waduh, pantesan pencitraan kian gencar menjelang pilkada atau pemilu ya? Meski Pemilihan Presiden masih dua tahun lagi, tapi kampanye pencitraan sudah dimulai sejak sekarang atau bahkan hari-hari sebelumnya dengan tujuan untuk membentuk “ingatan kolektif”. Hmm… sebuah proyek besar tanpa makna jika pencitraan berubah jadi penipuan.

Citra diri remaja muslim
Remaja muslim adalah remaja taat syariah, remaja pejuang dakwah, dan remaja yang siap menjadi pemimpin umat di masa depan. Citra diri seperti ini yang harus diperhatikan dan diupayakan. Bukan citra diri sebagai remaja hedonis, bukan citra diri sebagai remaja sekular, apalagi identik dengan remaja doyan maksiat. Naudzubillah, amit-amit tujuh turunan tujuh tanjakan (capek dong jalannya ya? Hahaha… **apa hubungannya?)
Namun jika melihat kenyataannya, kita wajib prihatin. Banyak remaja muslim yang minder dengan keislamannya. Mereka berusaha membentuk identitas lain di luar dirinya, bahkan di luar ajaran Islam sebagai Din-nya. So,  rasa-rasanya benar banget apa yang disampaikan Ibnu Khaldun tentang perilaku bangsa-bangsa yang kalah, “”Yang kalah cenderung mengekor yang menang dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat istiadat mereka, bidang seni; seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di dinding-dinding, pabrik-pabrik atau di rumah-rumah.”
Sobat muda muslim, kembali kita tengok judul buletin gaulislam di pekan ke-237 ini, “Buka Topengmu, Sobat!” Ya, dengan judul ini memang ingin mengajak (dan sekaligus menyentil) kamu untuk interospeksi, dan syukur-syukur bisa nyadar. Nggak usahlah dirimu disulap untuk menjadi orang lain. Dirimu tetaplah dirimu, apa adanya saja. Tak perlu bersandiwara di depan banyak orang dengan tujuan untuk mendapatkan simpati atau imej tertentu bahwa kamu begini dan begitu, sementara pada kenyataannya kamu tidaklah seperti yang kamu citrakan. Bahaya, sobat! Bisa blunder buat kamu sendiri. Sumpah!
So, tak perlu menggunakan topeng agar terlihat manis kalo niatnya buat mengelabui orang. Sebab, Kamu yang sejatinya jutek, judes bahkan sadis bisa ditutupi dengan topeng manis, ramah, dan bahkan baik hati. Mungkin saja sementara waktu orang bisa ‘tertipu’ dengan penampilan dirimu, tetapi suatu saat pasti kebongkar juga kan belangnya dirimu? Mungkin saja kamu bisa menipu banyak orang dengan penampilan dirimu di balik topeng, tetapi ingat tidak semua orang bisa ditipu. Siapa tahu malah ada yang berani membongkar keburukanmu yang kamu sembunyikan di balik topeng indahmu itu. Percayalah!
Maka yang hebat adalah menyulap dirimu jadi muslim sejati, baik penampilan maupun pikiran dan perasaanmu. Jadikan Islam sebagai jalan hidupmu. Maka, segala sifat jelekmu akan dikikis dengan Islam. Itulah sebaik-baik penampilan dengan niat untuk menunjukkan identitas islammu dengan cara yang benar dan baik untuk menggapai ridho Allah Swt. Amiin.

Berteman Yes!, Pacaran No! ( Nikah: Lebih cepat Lebih Baik )

Seabrek alasan dapat dikemukakan ketika dua sejoli memastikan dirinya untuk pacaran. Ada yang beralasan bahwa mereka pacaran untuk mengisi waktu kosong. Logikanya, daripada waktu terbuang sia-sia khan lebih baik kalau dimanfaatkan untuk hal-hal yang ‘positif’. Tanpa aktivitas pacaran, remaja ABG akan cenderung bengong saja atau paling banter ngelamun, akibatnya sang waktu akan meninggalkannya di landasan pacu. Jadi pacaran itu solusi bukan problem.

Mereka yang mengantongi alasan begini akan meningkatkan kinerjanya dalam berpacaran setiap ada waktu luang. Sementara syaithan bergoyang dombret sambil berdendang cucok rowo untuk ngipasin mereka agar terlena. Umumnya syaithan berhasil, buktinya remaja yang berpacaran cenderung mengisi penuh semua waktu luangnya untuk pacaran. Kalau waktu luang ternyata tidak ada maka mereka bisa menciptakan waktu luang.

Caranya, kurangi jatah waktu belajar, jatah waktu bersih-bersih bantuin ortu di rumah, jatah waktu berorganisasi, jatah waktu beribadah, jatah waktu tidur, jatah waktu mandi dan tambah jatah waktu pacaran. Akhirnya, pacaran bukan lagi sekadar ngisi waktu luang tapi justru membakar sekian banyak jatah waktu. Syaithan memang pakar banget bikin jurang tampak seperti singgasana.

Ada juga yang beralasan bahwa pacaran itu dapat memberikan spirit untuk berprestasi. Karena dengan pacaran sang pasangan akan selalu memberikan dorongan ataupun nasihat maupun petuah. Petuah sang pacar biasanya langsung ditaati sehingga lebih efektif daripada petuah ortu atau para ustadz. Kalau sang pacar memberikan kritikan kontan saja kepalanya jadi membengkak dengan bibir tersenyum, bangga karena itu berarti sebuah perhatian. Karenanya pacaran dapat dipandang sebagai sarana untuk menjadikan remaja berjiwa dewasa, penuh perhatian dan bisa menimbulkan perasaan saling mengasihi dan saling membantu.

Alasan begini kelihatannya cukup dewasa. Tapi sebentar dulu. Rasa perhatian dan saling membantu itu umumnya hanya antar mereka berdua sebagai sejoli yang sedang kasmaran. Mereka hanya memperhatikan sang pacar, cuek pada yang lain. Punya duit ingat dia, punya makanan ingat dia, punya waktu sepi ingat dia, waduh syair ndangdut.

Jadi, pacaran itu akhirnya dapat ngedongkrak rasa egoisme, karena yang ada di otak hanya si dia. Lebih ngeri lagi kalau di otaknya itu ternyata ada sel bermerk ngeres. Pacaran juga bisa bikin orang otoriter, yang didengar cuma nasihat dan petuah dari mulut sang pacar, karena di mulutnya ada madu dan di matanya ada pelangi, mirip sinetronlah. Lihat saja, kalau ortu atau ustadz yang menasihati pasti bibirnya langsung monyong dengan 1001 sinis. Dunia seakan hanya milik mereka berdua, lautan dan kapalnya juga milik mereka berdua, dan akhirnya tenggelam, wah yang ini ingat film Titanic.

Bahkan ada remaja yang mohon kepada Tuan Sufi agar membolehkan pacaran, istilahnya pacaran syari’ah. Misalnya yang ikhwan pakai koko putih bersih dan akhwatnya pakai jilbab, dan sekali-kali melafadzkan bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari. Tapi aktivitas sayang-sayangan dan berdua-duaan jangan dicabut. Kata Tuan Sufi, itu mah mengakali dan menunggangi kata “syari’ah” yang mulia. Meski pakai koko dan sorban serta minyak za’faran, pacaran itu tetap haram karena Rasullah saw. melarang dua sejoli yang bukan mahramnya derdua-duaan di tempat tertentu (khlawah). Yang ketiga dari mereka adalah syaithan dan syaithan selalu mendorongnya agar bermaksiat. Naudzubillahi min dzalik. [Sadik]

[pernah dimuat di Majalah PERMATA edisi Februari 2004]

http://www.gaulislam.com/pacaran-syariah

==================================


Berteman Yes!, Pacaran No!

STUDIA Edisi 092/Tahun ke-3 (8 April 2002)

Laki-laki dan wanita “ditakdirkan” untuk saling tertarik. Pesonanya kerap memberikan suasana yang lain daripada yang lain. Pokoknya, bikin hidup lebih hidup. Lihat deh iklan salah satu produk rokok untuk pasar remaja, edisi “jatuh cinta”. Bener-bener lain dari yang lain. Maksudnya, rasakan sendiri deh bedanya. Lho, kok nyuruh?

Hubungan yang terjadi di antara mereka pun nggak jarang bikin heboh. Bahkan banyak “diabadikan” melalui karya sastra dan seni yang bertebaran dalam puisi, lagu, film, dan juga dalam cerpen atawa novel. Dalam lagu misalnya, kayaknya nggak seru kalo nggak ada unsur hubungan antara dua jenis manusia ini. Kamu bisa lihat sendiri, banyak musisi yang menjadi­kan “kisah” hubungan antara kaum Adam dan kaum Hawa ini. Kisah cinta di antara keduanya pun senantiasa menjadi cerita tersendiri yang menarik untuk disimak. Kisah tentang kepedihan ataupun tentang kebahagiaan, kedua sisi itu tetap punya pesona.

Jelasnya, laki-laki dan wanita ibarat magnet yang berbeda kutub. Satu sama lain saling memiliki daya tarik. Kalo yang laki kutub selatan, maka yang perempuan sudah pasti kutub utara. Atau sebaliknya. Dua kutub ini pasti saling tertarik dan menarik. Kalo nggak saling menarik berarti ada apa-apanya. Misal­nya, kedua magnet itu tidak saling berdekatan. Sebab, “hukum asalnya”, magnet hanya akan saling menarik bila masih dalam medan magnet yang bisa dijangkaunya. Kalo berjauhan dijamin kagak bakalan saling menarik. Coba aja, satu magnet sepatu kuda di letakkan di Bandung, dan magnet lainnya disimpan di Jakarta. Walah? He..he..he..

Sobat muda muslim, hubungan antara lelaki dan wanita selalu menarik perhatian. Bahkan ada teman yang bilang, bahwa intensitas pertemuan dua lawan jenis ini bisa menimbulkan “energi” lain. Seperti rasa senang, suka, cinta, bahagia, bahkan juga bisa kebencian. Wah, wah, wah. Kok?

Begini, lelaki dan wanita memang diciptakan dengan kondisi yang berbeda satu sama lain. Baik itu postur tubuh, cara bicara, cara berjalan, juga model suaranya. Wis, pokoke berbeda banget di antara keduanya. Itu pulalah yang kemudian dalam kehidupan sehari-hari memerlukan aturan baku yang bisa menjaga hubungan di antara keduanya.

Dalam batasan aurat misalnya, lelaki dan perempuan berbeda aturannya. Kalo perempuan sekujur tubuhnya adalah aurat, kecuali muka dan kedua telapak tangannya. Itu artinya, kalo keluar rumah, dan kalo ada lawan jenis yang bukan mahrom di hadapannya, maka auratnya wajib tertutup rapat. Kalo anak laki gimana? Wah, pasti kamu udah pada tahu dong. Yup, anak laki lebih “ringan”. Maksudnya cuma bagian pusar sampe lutut. Dengan begitu, anak laki kalo keluar rumah atau bertemu dengan lawan jenisnya kudu menutup daerah batas aurat tersebut. Kalo melanggar, ya berdosa, dong.

Sobat muda muslim, dalam kondisi di lapangan, kita memang nggak mungkin bisa menghindarkan diri 100 persen dari lawan jenis. Nggak. Nggak mungkin. Kalo pun bisa, gharizah an-na’u (naluri mempertahankan jenis) akan senantiasa hadir dalam diri kita. Bedanya, dalam hal kuat atau tidaknya gelombang pera­saan tersebut. Mungkin kalo sering bertemu, gelombangnya makin kenceng, bahkan mungkin menandingi gelombang tsunami (emangnya bisa?). Tapi kalo jarang ketemu, bisa tenang. Terdeteksi sih, kalo ada gelombang perasaan itu, tapi tak sedahsyat kalo sering bertatap wajah atau dengerin suaranya di gagang tele­pon saat kita mengontaknya.

Nah, karena kita nggak mungkin hidup menyendiri, maka antara lelaki dan wanita juga bisa dibangun mitra kerja. Anggaplah untuk beberapa keperluan, kita bisa bekerjasama dengan lawan jenis. Dalam bahasa mudahnya, kita bisa berteman; entah di kampus, di pesantren, di sekolah, atau di antara pengurus pengajian di lingkungan tempat kita tinggal. Bisa aja kan itu terjadi. Dan memang mutlak terjadi. Hanya saja, perlu aturan main juga, biar nggak kebablasan. Sebab, adakalanya di antara kita yang lupa dan nggak ngeh. Mentang-mentang berteman, tapi yang terjadi adalah gaul bebas. Kan itu bahaya binti gawat, iya nggak? Jadi hati-hati deh!

Berteman dengan lawan jenis

Sebut saja Rina, anak kelas 3 SMU ini terkenal sering curhat sama Ferry, teman sekelasnya. Bagi Rina, punya teman curhat lawan jenis betul-betul mengasyikkan. Alasan beliau, kalo dengan anak cewek lagi suka nggak enak ati. Masih ada perasaan ragu dan khawatir. Apalagi kebetulan temen-temen Rina mulutnya lebih dari satu. Maksudnya doyan ngegosip ke sana kemari. Jadi Rina nggak mau curhat sama temen ceweknya itu. Sebab, terlalu berisiko. Jangan-jangan masalah dirinya bakalan diobral kepada siapa aja. Kan malu. Itu sebabnya Rina lebih percaya sama anak cowok. Menurutnya, anak laki nggak banyak omong. Lagi pula, berdasarkan pengalamannya, Ferry amat ngertiin kondisi dirinya. Karuan aja, itu membuat Rina makin percaya sama anak cowok sekelasnya itu. Maklumlah, anak cowok kan berbeda dalam mengendalikan emosinya ketim­bang anak cewek. Benarkah?

Jadi deh, Rina lengket sama Ferry, bahkan punya lagu kebangsaan segala. Apalagi kalo bukan lagu Sobat-nya Padi. Wah, Rina-Ferry ini deket banget bergaulnya. Meski mere­ka menampik kalo hubungan keduanya adalah pacaran. “Nggak kok, kita cuma berteman,” kilah Rina. Hmm…

Sobat muda muslim, Allah memang menciptakan dua jenis manusia ini. Bahkan bukan hanya itu, Allah Swt. telah menciptakan manusia ini menjadi bersuku-suku dan ber­bangsa-bangsa. Tujuannya adalah untuk saling mengenal. Firman Allah Swt.:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perem­puan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.” (TQS al-Hujurât [49]:13)

Tapi jangan salah, meski tujuan kita adalah berteman, tapi tetep kudu mematuhi rambu-rambu pergaulan. Maklum, dengan lawan jenis kan ada “magnetnya”. Khawatir nggak tahan godaan. Entar “kecebur” aja. Bahaya banget. Itu sebabnya, nggak boleh sesuka kita dalam berbuat. Tapi ada aturan mainnya. Nah, karena kita adalah seorang muslim, maka tentu saja yang dipakai adalah aturan Islam. Bukan aturan lain. Pastikan standarnya adalah Islam.

Berteman dengan lawan jenis, bukan berarti secara ‘saklek’ haram. Nggak. Silakan saja, asal masing-masing memegang prinsip pergaulan yang diajarkan Islam. Sebab, berte­man adalah bagian dari sosialisasi kita. Dan yang namanya sosialisasi, bukan berarti hanya dengan kawan sejenis aja kan? Tapi bisa lintas jenis. Anak laki dengan anak puteri.

Kamu yang kebetulan aktif di masjid sekolahan atau lembaga keislaman di kampus, pasti saling membutuhkan peran masing-masing. Anak laki butuh teman dari kalangan anak puteri, dan sebaliknya. Itu ada gunanya pas kita mengelola dakwah di sekolah atau di kampus. Utamanya ketika kita harus bero­rganisasi untuk keperluan pembinaan. Berarti berteman itu boleh-boleh saja, selama masih menjaga batasan-batasan yang diajarkan Islam.

Seperti apa sih aturan mainnya? Singkat­nya begini, anak putra dan anak puteri kalo bertemu untuk membicarakan suatu keperluan dakwah misalnya, harus tetap menjaga diri. Keduanya usahakan harus bertemu di tempat umum; seperti masjid, jalan, atau ruang kelas. Selain itu, kudu tetap menutup aurat. Terus, menjaga pandangan, artinya mata kamu jangan jelalatan kayak mau maling jemuran (uppsss..). Meski tentu nggak perlu terus menunduk (emangnya lagi ngegojlok semut?). Jangan lupa, kita juga kudu sopan santun dalam berba­hasa, artinya kita jangan sembarangan ngomong. Anak puteri kalo pas ngomong dengan anak laki, suaranya jangan dibuat-buat. Tahu kan yang kita maksud? Yes, dibuat semerdu mungkin atau mendesah kayak para pesinden musik dangdut. Sebab, khawatir diterjemahkan lain sama anak laki. Maklum, hubungan ini tetap menyimpan pesona. Sekali lagi, hati-hati!

Untuk semua itu, Allah Swt. telah mengajarkan kepada kita melalui firman-Nya:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, (TQS an-Nûr [24]: 31)

Dalam ayat lain Allah Swt. Berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pan­dangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (TQS an-Nûr [24]: 30)

Dengan begitu, kamu kudu mampu untuk menjaga dan mempertahankan aturan main itu sebagai tameng dalam berteman dengan lawan jenis. Sebab, banyak juga di antara teman remaja yang ngakunya berteman, eh, buktinya malah pacaran. Kan itu berbahaya sobat. Dosa!

Pacaran? No Way!

Bagi sebagian teman remaja, berteman dengan lawan jenis bisa dijadikan sebagai sarana untuk menjajaki hubungan di antara keduanya. Malah lucunya, banyak juga teman remaja yang sulit membedakan antara berte­man dengan pacaran. Maklum, kalo kita lihat di lapangan, anak laki dan anak puteri banyak juga yang main bareng layaknya dengan kawan sejenis. Kadang ada juga yang suka main timpuk-timpukan, atau saling curhat. Perbua­tan itu menurut sebagian besar teman remaja adalah wajar alias nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Padahal dalam ajaran Islam, hubungan mereka sudah termasuk gaul bebas, meski tidak kelewat batas memang. Tapi celah itu bisa menjadi peluang untuk berhubungan ke arah yang lebih jauh. Maksudnya bisa bikin deket, makin deket dan pengen deket aja. Nggak heran kalo kemudian banyak yang akhirnya nekat z-i-n-a. Naudzubillah min dzalik.

Sobat muda muslim, pacaran adalah salah satu jalan menuju perzinaan. Itu sebabnya, Allah Swt. sudah mewanti-wanti umat Nabi Muhammad ini melalui firman-Nya:

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al Isra: 32).

Sobat muda muslim, pacaran bagi sebagian besar teman remaja adalah aktivitas normal. Yakni aktivitas yang tidak perlu dipersoalkan. Malah seringkali para aktivis beratnya punya dalil, bahwa pacaran adalah bagian dari proses kehidupan, khususnya dalam mengenal seseorang. Siapa tahu, suatu saat bisa terus ke pernikahan. Walah? Padahal faktanya, banyak juga yang udah bertualang “luar-dalam”, akhirnya kagak jadian alias salah satu mengkhianati, yakni menikah dengan orang lain. Wuah?

Kamu jangan heran or bingung, dalam kondisi kehidupan yang jauh dari ajaran Islam ini, banyak orang, termasuk remaja menjadi liar. Gaya hidup hedonis (mendewakan kenikmatan materi dan jasmani) yang kemudian melahirkan gaya hidup permisi­visme (serba boleh). Akibatnya, banyak teman remaja yang memiliki gaya hidup “semau gue”. Khususnya, dalam ajang gaul bebas. Kasihaaan deh kamu….

Oke deh, berteman yes, pacaran no![]